Marissa Salim

Emas sebagai aset strategis bagi Indonesia

Lanskap investasi Indonesia tengah menghadapi berbagai tekanan di tahun 2026. Inflasi utama (headline inflation) sedang meningkat, didorong oleh guncangan harga energi global akibat konflik Timur Tengah, Bank Indonesia yang membatalkan panduan pemotongan suku bunganya (rate-cut guidance), serta pasar saham domestik yang mengalami guncangan menyusul ancaman MSCI untuk menurunkan status Indonesia dari kategori Pasar Berkembang (Emerging Market) menjadi Pasar Perintis (Frontier Market).

Di tengah kondisi tersebut, emas tetap menjadi aset yang memikat bagi investor institusi maupun individual. Secara historis, emas telah berfungsi sebagai instrumen lindung nilai krisis (crisis hedge) paling andal di Indonesia. Selama krisis keuangan Asia 1997-98, emas berhasil menjaga daya beli dalam denominasi rupiah, ketika nilai mata uang ini anjlok hingga 80%. Pola ini terus berulang dalam berbagai kondisi saat rupiah melemah dan terjadi tekanan pasar.

Akses terhadap emas di tingkat institusional di Indonesia terus membaik. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menetapkan sebuah kerangka regulasi untuk mendukung perkembangan ini, membuka jalan bagi peluncuran ETF emas pertama di Indonesia pada pertengahan tahun 2026.

Lanskap risiko saat ini: alasan aset tradisional berada di bawah tekanan

Prospek makro Indonesia

Prospek ekonomi Indonesia semakin kompleks meskipun pertumbuhan yang tetap berlanjut. Serangkaian tekanan dan inflasi, ruang fiskal yang terbatas, serta hambatan moneter, terakumulasi di tahun 2026. Hal ini terjadi di tengah perang di Timur Tengah yang menghambat aliran energi global.

Didorong oleh disrupsi terhadap pasokan energi global, inflasi di Indonesia diprediksi akan mengalami peningkatan dari 2% di tahun 2025, menjadi 3.4% di tahun ini. Fokus pemerintah saat ini pada percepatan infrastruktur, subsidi bahan bakar, dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah memperlebar defisit fiskal1 dan membatasi ruang gerak pemerintah dalam merespons guncangan yang terjadi. Akibatnya, biaya hidup domestik diperkirakan akan naik, yang berpotensi menekan permintaan domestik.

Pada akhir Januari, pasar ekuitas dikejutkan oleh pengumuman mengenai kebijakan MSCI untuk membekukan seluruh penyesuaian positif terhadap saham-saham Indonesia dalam indeksnya, menyusul isu transparansi data kepemilikan2. Akibat kondisi ini, Indonesia terancam untuk diturunkan statusnya menjadi Pasar Perintis (Frontier Market) jika reformasi transparansi tidak dipenuhi hingga Juni 2026. Sementara itu, siklus pemotongan suku bunga Bank Indonesia yang dimulai pada akhir 2023 tampak terhambat akibat perang di Timur Tengah yang menghentikan dukungan moneter bagi pasar keuangan.3

 

Grafik 1: Ekspektasi inflasi membatasi ruang Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga

Indeks Harga Konsumen (IHK) Kuartalan dan suku bunga kebijakan Bank Indonesia selama lima tahun terakhir*

Chart 1: Inflation expectations constraining Bank Indonesia’s room to cut

Chart 1: Inflation expectations constraining Bank Indonesia’s room to cut
Quarterly headline CPI and Bank Indonesia policy rate over the past five years*
*Quarterly data between Q1 2020 and Q1 2026. Source: Bloomberg, World Gold Council

Sources: Bloomberg, World Gold Council; Disclaimer

*Quarterly data between Q1 2020 and Q1 2026.

Emas sebagai aset dengan performa gemilang

Di tengah berbagai tekanan domestik, emas tetap menjadi aset dengan performa luar biasa. Pada tahun 2025, emas dalam denominasi rupiah berhasil mengungguli sebagian besar saham dan obligasi, baik di pasar global maupun domestik. Menyusul kepanikan pasar saham pada Q1, harga emas tetap kokoh dan menutup kuartal tersebut dengan kenaikan 14% dalam rupiah, sementara saham lokal anjlok hingga 13%.

 

Grafik 2: Emas memberikan imbal hasil lebih baik dibandingkan kelas aset lainnya pada 2025 dan Q1 2026

Performa kelas aset pada 2025 dan Q1 2026 dalam denominasi rupiah*

Chart 2: Gold delivered better returns than other asset classes in 2025 and Q1 2026

Chart 2: Gold delivered better returns than other asset classes in 2025 and Q1 2026
Performance of asset classes in 2025 and Q1 2026 in rupiah terms*
*Weekly data between January 2025 to March 2026. Indices used MSCI World Index, Bloomberg Global-Aggregate Total Return Index. Jakarta Stock Exchange Composite Index, MSCI AC Asia ex-Japan Index, IBPA Indonesia Composite Bond Index, Bloomberg US Treasury Total Return Index, LBMA Gold Price PM, Bloomberg Commodity Index. All in IDR. Source: Bloomberg, World Gold Council

Sources: Bloomberg, World Gold Council; Disclaimer

*Weekly data between January 2025 to March 2026. Indices used MSCI World Index, Bloomberg Global-Aggregate Total Return Index. Jakarta Stock Exchange Composite Index, MSCI AC Asia ex-Japan Index, IBPA Indonesia Composite Bond Index, Bloomberg US Treasury Total Return Index, LBMA Gold Price PM, Bloomberg Commodity Index. All in IDR.

Kelas aset strategis bagi Indonesia

Momentum emas Indonesia telah tiba

Sebagai bentuk pengakuan atas nilai strategis emas, salah satu perkembangan menarik di pasar Indonesia adalah pembentukan kerangka regulasi oleh OJK yang memfasilitasi alokasi emas pada tingkat institusional.

Melalui regulasi POJK 5/2023, OJK pertama kali mengizinkan emas sebagai aset investasi bagi perusahaan asuransi dan reasuransi, dengan batas maksimum 10% dari total investasi di luar dana PAYDI (asuransi unit-link). OJK kemudian memperluas kerangka tersebut melalui regulasi produk (POJK 2/2026) yang mencakup ETF emas fisik, sehingga membuka jalan bagi institusi lokal untuk melakukan alokasi ke emas. Kami percaya emas dapat membantu memperkuat portofolio domestik dari beberapa perspektif berikut.

Emas sebagai lindung nilai krisis

Peran emas sebagai aset lindung nilai saat krisis telah terbukti dalam setiap periode pelemahan rupiah dan tekanan finansial. Emas terbukti efektif melindungi nilai terhadap depresiasi mata uang. Sebagai contoh, selama Krisis Finansial Asia 1997, rupiah melemah hingga 80% dari Juli 1997 hingga Januari 1998. Bagi investor Indonesia yang terdampak krisis tersebut, emas menjadi kelas aset utama ketika instrumen lain gagal memberikan perlindungan.

 

Grafik 3: Emas bertahan selama Krisis Keuangan Asia 1997-1998 ketika beberapa mata uang lainnya terpuruk

Kinerja mata uang Asia dan emas dalam USD yang diindeks ke Juli 1997*

Chart 3: Gold held up during 1997-1998 Asian Financial Crisis while currencies took a beating

Chart 3: Gold held up during 1997-1998 Asian Financial Crisis while currencies took a beating
Performance of Asian currencies and gold in USD indexed to July 1997*
*Weekly data from July 1996 to December 1999. Currencies used USDTHB, USDMYR, USDPHP, USDKRW, USDIDR, XAU. Source: Bloomberg, World Gold Council.

Sources: Bloomberg, World Gold Council; Disclaimer

*Weekly data from July 1996 to December 1999. Currencies used USDTHB, USDMYR, USDPHP, USDKRW, USDIDR, XAU.

Dalam berbagai kondisi krisis sistemik di pasar ekuitas, emas secara konsisten menjadi aset yang kinerjanya teruji waktu.

Selama Krisis Keuangan Global (2008), pandemi COVID-19 (2020), guncangan kenaikan suku bunga The Fed (2022), hingga tantangan yang tengah berlangsung pada 2026, emas dalam denominasi rupiah selalu mengungguli ekuitas domestik. Yang tidak kalah penting, emas juga menjadi sumber likuiditas yang krusial selama periode tekanan pasar, membantu investor meredam kerugian (cushioning losses). Meskipun kebutuhan likuiditas dapat memicu kerugian sementara, emas cenderung pulih dengan cepat.

 

Grafik 4: Emas memberikan perlindungan terhadap risiko penurunan

Kinerja saham, obligasi, dan emas selama berbagai periode krisis*

Chart 4: Gold provides downside protection

Chart 4: Gold provides downside protection
Performance of stocks, bonds and gold during various crises*
Source: Bloomberg, World Gold Council *As of 24 April 2026. Based on weekly data. Return computations in IDR for ‘Local equities’: Jakarta Composite Index, ‘Local bonds’: IBPA/PHEI Government Total Return Index which dates back to November 2014, ‘Gold in rupiah’: XAUIDR. Dates used: COVID-19 : 2/2020 – 8/2020; 2026 Shock: 1/2026 – 4/2026.

Sources: Bloomberg, World Gold Council; Disclaimer

*As of 24 April 2026. Based on weekly data. Return computations in IDR for ‘Local equities’: Jakarta Composite Index, ‘Local bonds’: IBPA/PHEI Government Total Return Index which dates back to November 2014, ‘Gold in rupiah’: XAUIDR. Dates used: COVID-19 : 2/2020 – 8/2020; 2026 Shock: 1/2026 – 4/2026. 

Sumber imbal hasil jangka panjang yang stabil

Di luar fungsinya sebagai pelindung saat krisis, emas mampu memberikan imbal hasil di berbagai siklus ekonomi. Beragam sumber permintaan emas memberikan ketahanan tersendiri dan potensi menghasilkan kinerja yang solid dalam berbagai kondisi pasar.

 

Grafik 5: Emas menghasilkan imbal hasil yang signifikan selama 20 tahun terakhir

Compound Annual Growth Rate aset (CAGR)*

Chart 5: Gold has generated notable returns over the past 20 years

Chart 5: Gold has generated notable returns over the past 20 years
Asset compound annual growth rate (CAGR)*
Source: Bloomberg, World Gold Council *Data between April 2006 and April 2026. Based on the MSCI World Index, Bloomberg Global Aggregate Total Return Index, Jakarta Stock Exchange Composite Index (JCI), IBPA/PHEI Indonesia Government Bond Index, Bloomberg Commodity Index, and the LBMA Gold Price PM. All calculations in IDR.

Sources: Bloomberg, World Gold Council; Disclaimer

*Data between April 2006 and April 2026. Based on the MSCI World Index, Bloomberg Global Aggregate Total Return Index, Jakarta Stock Exchange Composite Index (JCI), IBPA/PHEI Indonesia Government Bond Index, Bloomberg Commodity Index, and the LBMA Gold Price PM. All calculations in IDR.

Memperkuat portofolio Indonesia

Meskipun alokasi aset tiap institusi di Indonesia bervariasi, terdapat satu kesamaan utama, yaitu kewajiban alokasi domestik minimum bagi sebagian investor.

Sebagai contoh, dana pensiun diwajibkan memiliki minimal 30% alokasi pada obligasi pemerintah. Sementara itu, perusahaan asuransi dan reksa dana juga terikat oleh ketentuan alokasi aset yang diperbolehkan serta kewajiban pencocokan liabilitas domestik (domestic liability matching).

Dalam analisis ini, kami mencerminkan realitas pasar domestik dengan mengadopsi portofolio dasar 
berkomposisi 60% ekuitas lokal dan 40% obligasi lokal. Kami kemudian memodelkan dampak alokasi emas mulai dari 2,5% hingga 10% untuk menunjukkan peningkatan metrik risiko dan imbal hasil (risk-return) pada setiap tingkat eksposur emas4.

Tabel 1: Emas meningkatkan imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko (risk-adjusted return) sekaligus menurunkan volatilitas portofolio

Perbandingan profil risiko dan imbal hasil portofolio ekuitas-obligasi IDR dengan penambahan alokasi emas secara bertahap*

Portfolio Return (%) Volatility (%) Sharpe
Baseline 4.9 10.7 0.18
2.5% gold 5.2 10.3 0.22
5.0% gold 5.5 9.9 0.25
7.5% gold 5.8 9.6 0.29
10% gold 6.0 9.3 0.33

Source: Bloomberg, World Gold Council 
*Weekly data from December 2015 to April 2026. Return computations in IDR. Indices used Jakarta Composite Index, IBPA/PHEI Government Total Return Index and XAUIDR.

 

Grafik 6: Penambahan emas selama 20 tahun terakhir meningkatkan risk-adjusted returns dari portofolio hipotetis dalam IDR

Risk-adjusted returns portofolio hipotetis pada alokasi emas yang meningkat secara bertahap*

Chart 6: Adding gold over the past 20 years would have increased risk-adjusted returns of a hypothetical IDR portfolio

Chart 6: Adding gold over the past 20 years would have increased risk-adjusted returns of a hypothetical IDR portfolio
Risk-adjusted returns of a hypothetical portfolio at incremental allocation of gold*
Source: Bloomberg, World Gold Council *Weekly data from April 2000 to April 2026. Based on weekly data. Return computations in IDR. Indices used Jakarta Composite Index, IBPA/PHEI Government Total Return Index and XAUIDR.

Sources: Bloomberg, World Gold Council; Disclaimer

*Weekly data from April 2000 to April 2026. Based on weekly data. Return computations in IDR. Indices used Jakarta Composite Index, IBPA/PHEI Government Total Return Index and XAUIDR.

Kesimpulan

Prospek investasi emas di Indonesia pada 2026 tetap menjanjikan, didukung oleh empat pilar utama:

  • Meningkatnya risiko akibat kenaikan inflasi, pelebaran defisit fiskal, serta tekanan pada pasar saham domestik membuat aset tradisional semakin tertekan untuk mempertahankan kinerjanya.
  • Emas memiliki rekam jejak yang terbukti sebagai aset lindung nilai Indonesia saat krisis. Dalam setiap periode pelemahan rupiah, emas dalam denominasi rupiah mampu menjaga dan melindungi daya beli.
  • Emas telah menjadi sumber imbal hasil jangka panjang yang stabil bagi investor Indonesia, dengan rata-rata imbal hasil sekitar 15% per tahun dalam rupiah selama 20 tahun terakhir.
  • Alokasi emas yang moderat sebesar 2,5%, sebagaimana terlihat pada analisis kami, mampu meningkatkan kualitas portofolio dasar investor Indonesia dengan mengurangi risiko konsentrasi.

Kerangka regulasi OJK kini juga terus berjalan, dengan peluncuran ETF emas berbasis fisik pertama di Indonesia yang diperkirakan hadir pada pertengahan 2026. Struktur baru dari regulasi OJK ini akan memungkinkan alokasi emas di tingkat institusional dan membuka peluang investasi baru. Emas tetap menjadi kelas aset yang kokoh dan menjanjikan bagi Indonesia.

Footnotes

1Indonesia mengalokasikan $20.7 miliar untuk program Makan Bergizi Gratis 2026 - ANTARA News, Agustus 2025.

2Baca: Saham Indonesia Anjlok akibat Pembekuan MSCI Picu Peringatan Bahaya | Morningstar, Januari 2026.

3Bank Indonesia akan menahan suku bunga pada 4,75% hingga akhir 2026 seiring perang Iran yang memicu risiko inflasi, April 2026.

4Alokasi ke emas diperoleh dengan mengurangi proporsi seluruh aset secara proporsional sehingga total keseluruhan aset tetap berjumlah 100%. Imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko (Risk-adjusted return) dihitung sebagai imbal hasil tahunan (annualized return) dibagi dengan volatilitas tahunan (annualized volatility).

Disclaimer [+]Disclaimer [-]